Friday, 8 June 2018

MAKALAH Sejarah Islam di Asia Tenggara, indonesia abad 20 hingga kemerdekaan


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sesudah abad 20 perjuangan bangsa Indonesia sudah bersifat nasional, yaitu seperjuangan tidak lagi bersifat nasionalisme sempit, namun perjuangan ditujukan untuk mencapai tujuan Indonesia Merdeka. Munculnya kata “Indonesia” sebagai identitas bangsa menyatukan berbagai suku, agama, dan budaya yang ada di Nusantara untuk bersatu padu mengusir penjajah.Bangkitnya pergerakan di indonesia itu ditandai dengan perubahan kesadaran politik bangsa, bangkitnya perjuangan dan pergerakan modern kepulauan nusantara dan pertumbuhan pemikiran politik yang jauh berkualitas.
Perjuangan dipimpin oleh golongan terpelajar (cendekiawan). Pemberian kesempatan bagi pribumi untuk mengenyam pendidikan disekolah-sekolah Belanda pada awal abad ke-20 dimaksudkan untuk memperoleh tenaga kerja murah, namun justru melahirkan golongan cendekiawan yangn kemudian memimpin perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Mereka adalah Sutomo, Suardi Suryaningrat, Soekarno, Moh. Hatta, Sahril dan lain-lain. Karena perjuangan melalui organisasi modern menerapkan sistem kaderisasi, maka meski pemimpin tertangkap dan dipenjara, perlawanan tetap berlanjut.
B.  Rumusan Masalah
          Adapun rumusan masalah dalam pembahasan Islam di Indonesia setelah abad ke 20 – kemerdekaan adalah sebagai berikut :
-       Bagaimana organisasi-organisasi Islam pada masa Pra-Kemerdekaan?
-       Bagaimana peran  Islam dalam mengusir penjajah?
-       Bagaimana Islam Indonesia di awal kemerdekaan?

C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam pembahasan Islam di Indonesia setelah abad ke 20 – kemerdekaan adalah sebagai berikut :
-       Untuk mengetahui organisasi-organisasi Islam pada masa Pra-Kemerdekaan
-       Untuk mengetahui peran  Islam dalam mengusir penjajah
-       Untuk mengetahui Islam Indonesia di awal kemerdekaan
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pra-Kemerdekaan (Masa Revolusi)
Keadaan Perang Asia Timur berkembang sangat cepat, Rusia menyusul mengumumkan perang kepada Jepang, sehingga Jepang mengalami kekalahhan demi kekalahan. Pada tanggal 6 Agustus  1945 Hiroshima dibom. Tanggal 7 Agustus 1945 pemerintah Jepang membentuk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman diundang menemui Marsekal Terauchi di Dalai (Vietnam). Tanggal 8 Agustus Mansuria diduduki Rusia. Tanggal 9 Agustus  Nagasaki dibom. Dalam pertemuan dengan Terauchi itu Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman mendapat jaminan bahwa kemerdekaan Indonesia tak menjadi masalah lagi, waktunya terserah mereka. Jepang akan membantu kapan saja Indonesia siap.  Ketika Soekarno dan kawan-kawan sampai di Saigon, mereka mendengar tentang perkembangan perang, maka Hatta menyadari bahwa kekalahan Jepang hanya tinggal nunggu waktu. Sekembalinya ke Indonesia, Syahrir menemui Hatta dan mendesak Soekarno untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia tanpa PPKI yang di bnetuk Jepang. Namun usulan Syahrir tidak dapat di terima Soekarno. Ketika Soekarno-Hatta ingin mencari kepastian apakah betul Jepang telah menyerah, Laksamana Maeda tidak dapat menjawab karena belum ada intruksi dari Tokyo. Karena itu Hatta meminta Soedardjo untuk mempersiapkan rapat PPKI yang akan diadakan tanggal 16 Agustus 1945. Tanggal 15 Agustus Soedardjo datang ke rumah Hatta yang sedang membuat teks proklamasi. Di sana ada beberapa pemuda yang memaksa Soekarno mengumumkan kemerdekaan malam itu juga melalui radio. Karna Soekarno menolak, Wikana (juru tulis pemuda) mengancam bahwa darah akan mengalir jika proklamasi tidak diumumkan, tetapi Soekarno tetap menolak.
Perubahan situasi yand demikian cepat menyebabkan berbagai pihak harus mencari tindakan yang paling tepat di saat-saat genting. Baru saja sore itu Hatta mengatakan kepada dau orang pemuda radikal bahwa ia suka revolusi tetapi tidak mau putsch yang akan menyeababkan korban sia-sia. Namun, kepastian Jepang menimbulkan keterkejutan bagi para pemimpin yang telah merintis jalan ke arah kemerdekaan secara teratur. Upaya mereka selama ini seakan-akan semua hilang. Karena itu, menurut mereka, perlu kehatihatian yang tinggi. Sebaliknya, para pemuda melihat bahwa ini kesempatan yang baik untuk menjalankan revolusi kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang.
Ketika Soekarno tetap menolak para pemuda kecewa, tatapi mereka sadar tanpa Soekarno-Hatta mereka tidak sanggup melancarkan revolusi. Oleh karena itu, akhirnya Soekarno-Hatta diculik. Saat mereka baru saja selesai makan sahur tanngal 16 Agustus 1945, di bawah pimpinan Soekarni, meraka dibawa ke Rengasdengklok. Di Jakarta, ketidak hadiran Soekarno-Hatta yang mengundang rapat PPKI menimbulkan kekhawatiran. Namun, rupanya barisan Peta (pemuda) tidak kompak sehingga yang semula merancanakan revolusi tidak terjadi. Akhirnya, salah seorang anggota Peta menceritakan kepada Soedardjo dan bersedia mengantar Soekarno-Hatta ke Jakarta.
Soekarno-Hatta diminta menemui Jendral Nashimura yang dihadiri Laksamana Maeda. Nashimura mengatakan  bahwa ia tidak bertanggung jawab lagi karena ia panglima yang kalah perang. Oleh karena itu, akhirnya Soekarno membuat teks proklamasi yang disetujui oleh PPKI. Pada subuh jam 3 pagi 17 Agustus 1945 teks proklamasi selesai dibuat, jam 10.00 dikumandangkan di Pegangsaan Timur 56. Dengan dibacakannya Proklamasi berarti Indonesia telah merdeka.[1]
Pada waktu proklamasi tanggal 17 Agustus 1945, Piagam Jakarta sama sekali tidak digunkan. Soekarno-Hatta justru membuat teks proklamasi yang lebih singkat, karena ditulis secara tergesa-gesa. Perlu diketahui, menjelang kemerdekaan, setelah Jepang tidak dapat menghindari kekalahan dari tentara sekutu, BPUPKI ditingkatkan menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Berbeda dengan BPUPKI yang khusus untuk pulau jawa, PPKI .merupakan perwakilan daerah seluruh kepulauan Indonesia. Perubahan itu menyebabkan banyak anggota BPUPKI yang tidak muncul lagi, termasuk beberapa orang anggota Panitia Sembilan. Persetase Nasionalis Islam pun merosot tajam.
Dalam suasana seperti itu, M. Hatta dalam sidang PPKI setelah kemerdekaan berhasil dengan mudah meyakinkan anggota bahwa hanya suatu konstitusi “sekular” yang mempunyai peluang untuk diterima oleh mayoritas rakyat Indonesia. Tujuh kata dalam anak kalimat yang tercantum dalam sila Pertama Pncasila dengan segala konsekuensinya dihapuskan dari konstitusi. Bahkan, Kantor urusan Agama seperti yang diperoleh Islam selama pendudukan  Jepang, oleh Pantia pun ditolak.
Oleh golongan nasional “sekular” keputusan itu  dianggap sebagai gentleman’s agrement kedua yan menghapuskan Piagam Jakarta sebagai  gentlemen’s agrement  pertama. Sementar itu, keputusan yang sama dipandang oleh gologan nasionalis Islam sebagai mengkhianati gentleman’s agrement itu sendiri. Para nasionalis Islam mengetahui bahwa, Indoesia Merdeka yang mereka perjuangkan dengan penuh prngorbanan itu, jangankan berdasarkan Islam, Piagam Jakarta pun tidak. Oleh sebab itu, bisa dibayangkan bagaimana kecewanya para nasionalis Islam.
Dengan demikian, jelas bahwa keputusan tentang penghapusan tujuh kata-kata dari Piagam Jakarta itu sama sekali tidak mengakhiri konflik ideologi yang telah belangsung  lama pada masa kemedekaan, Para nasionalis Islam harus menerima kenyataan itu, karena mereka menyadari bahwa masa revolusi bukanlah saat yang tepat untuk mendesak terlaksananya cita-cita Islami mereka. Apabila, Soekarno dan Hatta menekankan sifat kesementaraan UUD yang diputuskan pada tanggal 18 Agustus 1945 itu. Soekarno mengatakan: “Nanti ..... dalam suasana yang lebih tenteram, kita tentu ... dapat membuat UUD yang lebih lengkap, lebih sempurna.
Yang sedikit agak melegakan hari umat Islam adalah keputusan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI), pengganti PPKI yang bersidang tanggal 25, 26, dan 27 November 1945. Komite yang dipimpin oleh Sutan Syahrir, pimpinan utama   Partai Sosialis Indonesia (PSI) itu antara lain, membahas usul agar dalam  Indonesia merdeka ini soal-soal keagamaan digarap oleh satu kementerian tersendiri dan tidak lagi diperlukan sebagai bagian tanggung jawab Kementrian Pendidikan. Sedikit banyak, keputusan  tentang Kementrian Agama ini merupakan semacam konsesi kepada kaum Muslimin yang  bersifat kompromi, kompromi antara teori sekular dan teori Muslim.
Umat islam memang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda yang datang dengan bantuan tentara sekutu untuk kembali menjajah Indonesia. Tokoh-tokohnya duduk dalam posisi-posisi politik penting, baik dalam kabinet maupun memimpikan perjuangan fisik dan diplomatik. Sementara itu, rakyat terlibat langsung dalam perjuangan fisik. Para ulama di kampung-kampung menyerukan perang jihat fi sabilillah. Rakyat berjuang dengan meneriakkan Allahu Akbar,  sampai kemerdekaan penuh Indonesia tercapai.[2] 
B.     Organisasi-organisasi Islam pada Masa Pra-Kemerdekaan
Perjuangan melalui organisasi pergerakan nasional. Upaya mencapai kemerdekaan dilakukan dengan cara-cara modern, misalnya lewat media massa, demo, pemogokan    menggalang dukungan politik dari dunia luar. Dalam perjuangan bangsa Indonesia sesudah abad ke-20, ditandai dengan bermunculannya organisasi-organisasi bersifat nasionalis.

1.    Budi Utomo
Sejak dokter Wahidin pada tahun-tahun 1906 dan 1907 melancarkan suatu gerakan untuk mendirikan gerakan untuk mendirikan studiefonds (beasiswa). Upaya Wahidin ini bertujuan untuk meningkatkan martabat rakyat dan membantu para pelajar yang kekurangan dana. Dari kampanye tersebut akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Sutomo. Organisasi Budi Utomo artinya usaha mulia.[3]
Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik. Tujuan utamanya adalah kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal ini terlihat dari tujuan yang hendak dicapai yaitu perbaikan pelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf yang mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja anak-anak bersekolah, membuka sekolah pertnian, memajukan teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan kebudayaan bumi putera dan menjujung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam rangka mencapai kehidupan rakyat yang layak.
Berdirinya Budi Utomo menjadi tonggak awal perlawanan bangsa Indonesia terhadap Belanda, dari yang semula menggunakan perlawanan fisik dan kontak senjata yang dirasa sangat tidak efektif karena senjata yang digunakan oleh bangsa Indonesia tidak dapat mengimbangi senjata yang dimiliki oleh Belanda dan akhirnya beralih ke perlawanan yang bersifat politik dan diplomatis. Sebagai awal dari perubahan pemikiran bangsa Indonesia akhirnya tanggal 20 Mei 1908 ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

2.    Serekat Islam
Pada mulanya Serekat Islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama Serekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah koperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia dibawah panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak memiliki anggota yang cukup banyak. Oleh karna itu agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Serekat Islam). Organisasi Serekat Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti O.S Cokroaminoto, Abdul Muiz, dan Agus salim. Serekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi agama Islam.
Latar belakang ekonomi berdirinya Serekat Islam adalah perlawanan terhadap para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina, isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya dan membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.
Secara umum, pendidikan Islam pada masa penjajahan dapat dipetakan dalam dua periode besar: masa penjajahan Belanda dan masa penjajahan Jepang.Pada awalnya pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan sesudah pengajian al-Qur’an awal abad 19 di seluruh wilayah Indonesia dan sampai akhirnya tahun 1905 Belanda mengeluarkan peraturan bahwa orang yang akan memberi pengajaran harus minta izin dulu. Ini adalah salah satu trik Belanda untuk mengawasi Islam di Indonesia, terutama di Jawa. Akibatnya guru dan pengajar agama Islam tidak memiliki keluasan dalam bergerak karena diawasi dan selalu dicurigai. Hal inilah yang menjadikan pengajaran nilai-nilai Islam menjadi tersendat-sendat. Bahkan perluasan agama Islam terhadap daerah-daerah yang belum terjangkau oleh Islam terhambat.[4]
-       Pendidikan Islam perspektif KH. Ahmad Dahlan
Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan menjadi tenaga pengajar dikampungnya. Di samping itu, ia juga mengajar di sekolah negeri, seperti Kweekscholl(sekolah pendidikan guru) di Jetis Yogyakarta danOpleiding School Voor Inlandhsche Amtenaren (QSVIA), yaitu sekolah untuk pegawai pribumi) di Magelang. Karena menurut KH. Ahmad Dahlan pendidikan Islam bertujuan pada usaha mebentuk manusia Muslim yang berbudi pekerti luhur, ‘alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Berarti bahwa pendidikan Islam merupakan upaya pembinaan pribadi muslim sejati yang bertaqwa, baik sebagai ‘Abd maupun khalifah fi al-ardl. Akhirnya KH. Ahmad Dahlan kemudian memperkokoh kepribadian intelek ulama.
Sekolah-sekolah yang didirikan KH. Ahmad Dahlan cenderung menyesuaikan dengan sistem pendidikan kolonial sekalipun hanya dalam tata cara penyelenggaraan pendidikan. Atas dasar itu, KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1911 mendirikan “Sekolah Muhammadiyah” yang menempati sebuah ruangan dengan meja dan papan tulis. Pelajaran yang diajarkan seperti ilmu bumi, ilmu alam, ilmu hayat dan sebagainya.        
Pada abad ke-20 dapat di katakan sebagai Abad Nasionalisme, karena sejak abad ini mulai timbul kesadaran berbangsa dan bernegara dengan ditandai adanya gerakan nasionalis dengan beberapa negara untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa masing-masing. Bangkit nya pergerakan di Indonesia juga ditandai dengan perubahan kesadaran politik berbangsa.Kesadaran dan bangkitnya rasa nasionalisme dalam masyarakat Islam Indonesia juga dipengaruhi oleh gerakan pembaruan Islam di Timur Tengah. Orang-orang Minangkabau mempunyai peranan penting dalam gerakan pembaruan pertama Islam di Indonesia.
Pada 1906 telah terbit surat kabar pertama berbahasa melayu,Al-Imam (“Pemimpin Agama”) di Singapura koran ini menjadi analisis Islam modren pertama yang benar-benar mendalam tentang persoalan agama,sosioal dan ekonomi. Seorang muslim Minangkabau yang terlibat dalam Al-Imam tersebut adalah syekh Thahir Jalaluddin (Muhammad Thahir Jalaluddin al-azhari ,1869-1957) yang pernah menetap Makkah selama 12 tahun.
Selanjutnya di susul dengan jurnal modernis pertama, Al-Munir,di dirikan pada awal 1911 di pantai barat suamatra oleh H. Abdullah Ahmad, kemudian juga menerbit majalah Al-Akhbar (majalah berita) pada 1913 dan menjadi redaktur majaah Al-Islam yang di terbitkan oleh Serikat Islam,pada 1916 kelompok ini juga mendirikan sekolah modren, seperti Sekolah Adabiyah pada 1909, Sekolah Diniyah Puteri pada 1915, dan Sumatra Thawalib, semuanya di Padang Panjang [5]
Pada 1925 Haji Abdul Karim Amrullah(Haji Rasul) membuka cabang Muhammadiyah di Minangkabau. Di sini, kedua organisasi Sumatra Thawalib dan Muhammadiyah segera menjadi saluran-saluran politik radikal. Bahkan, ketika terjadi pembrontakan komunis 1927 telah terjadi persekutuan antara kaum komunis muda, beberapa ulama tradisional dan beberapa tamatan Thawalib. Pada pertengahan 1930-an, tempat Thawalib yang terlarang di ambil alih oleh organisasi lokal lainnya,Permi (Persatuan Muslimin Indonesia).Namun,Permi pun di lucuti, sehingga yang tinggal hanya Muhammadiyah.
Dalam sejarah ada beberapa organisasi Islam yang dibentuk, diantaranya:
1.    Jami’at al-Khair (Perserikatan bagi Kebaikan)
Tepatnya pada tahun 1905 komunitas Arab Batavia membentuk Jami’at al-Khair (Perserikatan bagi Kebaikan). Perserikatan ini juga membuka sebuah sekolah modern dengan pembelajaran dalam bahasa Melayu. Pada 1911 perserikatan ini mendatangkan seorang guru Islam modern Sudan bernama Syekh Ahmad Sukarti (1872-1943). Namun, pertengkaran antara Sukarti dengan para pemimimpin Jami’at al-Khair membuat Sukarti membentuk organisasi  sendiri, al-Irsyad (Jam’iyyat al-Islah wa al-Irsyad: perserikatan bagi perbaikan dan bimbingan) pada1915.Al-Irsyad mendirikan sekolah campuran antara laki-laki dan perempuan yang pelajarannya disampaikan dalam bahasa Melayu,Arab,Belanda. Walaupun sebagian besar orang-orang Arab,tetapi terdapat pula beberpa orang Indonesia yang belajar lembaga itu.
     Sementara itu, pada 1911, dilakukan pembaharuan hati masyarakat Islam di Jawa Barat. Guru-guru bermazhab syaf’i membentuk persyarikatan ulama yang menerima beberapa ide pembaruan paham modern dan sedikit berhubungan dengan pesantren tradisional. Usaha sosialnya adalah membuka sebuah sekolah (1916), panti asuhan yang di kelolah oleh cabang wanitanya. Mereka juga melibatkan diri dalam kegiatan- kegiatan ekonomi, seperti percetakan, pertenunan, dan pertanian.
2.    Muhammadiyah
Organisasi ini berdiri pada 18 nopember 1912 oleh kiai H. Ahmad Dahlan (1869-1923), seorang pedagang yang saleh dari kauman –bagian kota yang penduduknya mayoritas muslim dan santri dekat dengan masjid utama- Yogyakarta. Muhammadiyah menjauhi kegiatan-kegiatan politik yang berorganisasi.
Seiring berjalannya waktu, melalui dakwah yang intensip, pada awal 1920-an Muhammadiyah mendapat sambutan di beberapa wilayah di luar Jawa. Pada 1925 Muhammadiyah mempunyai anggota 4000 0rang. pada 1930 jumlah anggota organisasi ini sebanyak 24.000 orang; pada 1935 beranggotakan 43.000 orang. Tiga tahun kemudian, Muhammadiyah mempunyai 852 cabang dengan keanggotaan total sekitar  seperempat juta orang. Pada 1938 ini, Muhammadiyah telah mengelola lebih kurang 834 masjid dan musallah, 31 perpustakaan umum, dan 1.774  sekolahan –termasuk sekolah menengah sekolah guru.
Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki 5516 orang juru dakwah laki-laki dan 2.114 juru dakwah perempuan. Hal ini telah mebuktikan peranan ritisan Muhammadiyah dalam Islam Indonesia modern. Karenanya, demikian kata Ricklefs,dapat di ktakan bahwa sejrah Islam modern di Indonesia sesuda 1925 adalah sejarah Muhammadiyah.
3.    Persatuan Islam(Persis)
Organisasi Persis berdiri pada tahun 1920-an oleh Haji Zamzam (1894-1952) dan Haji Muhammad Yunus di Bandung. Namun saat berdirinya sampai 1940-an, pada umumnya persia kurang memberikan tekanan bagi kegiatan organisasi sendiri. Organisasi ini tidak terlalu beminat pada pembentukan banyak cabang semata-mata bergantung pada inisiatif peminat dan tidak di dasarkan oleh suatu rencana yang di lakukan oleh pemimpin pusat. Jumlah anggota di bandung sendiritidak pernah mencapai 300 orang. Pada 1930-an dirasa perlu mempunyai propagandis. Karenanya,atas usaha A. Hasan seorang diri, pesantren persis didirikan.
4.    Nahdatul-Ulama (Kebangkitan Ulama)
Perkembangan fatastis gerakan modernis seperti yang di lakukan olehMuhammadiyah menarik minat beberapa kiai dan ulama tradisional di Jawa untuk mendirikan organisasi baru. Pada 1926, beberapa kiai di Jawa Tengah dan Jawa Timur mendirikan Nahlat al-Ulama (Kebangkitan Ulama), sering di singkat dengan NU. Ini merupakan organisasi pertama mereka yang begaya modern. Organisasi ini menarik  beberapa orang terkemuka dan terhormat semacam Kiai H. Hasyim asy’ari (1871-1974) yang kemudian menjadi ketua pertama organisasi ini. Meskipun tidak spektakuler seperti Muhammadiyah,NU meniru beberapa pembaruan kelompok medernis,dalam waktu yang singkat juga menandingi gerak dakwahnya di luar pulau Jawa.[6]
Ali Haidar mencatat paling tidak empat motif pembentukan organisasi Nahlat al-Ulama. Motif pertama yang mendasari gerakan para ulama pesantren membentuk NU ialah motif keagamaan sebagai jihat fi sabilillah. Motif kedua ialah tanggung jawab pengembangan pemikiran keagamaan yang ditandai dengan upaya melestarikan ajaran Mazhab AhlusSunnah wal Jama’ah. Yang ketiga  adalah dorongan untuk mengembangkan masyarakat pembentukan Nahdlatul Wathan,Tasywirul Afkar  dan Ta’mirul Masjid. Motif keempat adalah motif politikyang ditandai dengan semangat nasionalisme ketika pendiri UN itu mendirikan cabang SI di Makkah serta obsesi mengenai hari depan negeri merdeka  bagi umat Islam.
5.    PUSA (Persatuan Ulama-ulama Seluruh Aceh)
DiAceh juga muncul sebuah organisasi yang disebut dengan PUSA (Persatuan Ulama-ulama Seluruh Aceh). PUSA dipimpin oleh tengku Muhammad Daud Beureu pada 1939. Salah satu tujuanpendirian PUSA adalah mengibarkan panji-panji modernisme yang dikombinsikan dengan corak patriotisme Muslim Ace. Selain itu, PUSA ingin membendung pengaruh Muhammadiyah yang dianggap asing. Walapun Muhammadiyah berasil membuka cabang-cabangnya di Aceh,tapi para pendiri cabang tersebut dan juga mayoritas anggotanya adalah orang-orang luar Aceh. Jadi, Muhammadiyah kurang mekar di kalangan penduduk Aceh.
6. Serikat Islam (SI)
Tumbuhnya semangat dan pembaruan Islam di Dunia. Islam juga telah menyadarkan akan pentingnya akan organisasi politik. Salah satu organisasi politik Islam modern yang muncul ketika itu adalah Serikat Islam (SI). SI merupakan metamorfose dari Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan di Surakarta (Solo) pada 1911 oleh seorang pedagang muslim, Haji Sumanhudi. Perubahan nama dari SDI ke Simenjadikan organisasi ini mempunyai perubahan orientasi: dari komersial ke politik. Organisasi ini muncul, paling tidak disebabkan oleh dua hal. Pertama, daya dorongan ekonomi di balik kegiatan-kegiatan organisasi ini berasal dari persaingan perdagangan dengan orang-orang Cina yang tidak terkekang oleh kontrol-kontrol yang membatasi pemeritah kolonial. Kedua aktivitas keagamaan dalam organisasi ini,sebagiannya telah dipacu oleh kegiatan-kegiatan missionaris kristen yang semakin meningkat sejak 1810.
7. Central Serikat Islam (CSI)
Berdirinya cabang-cabag SI lokal telah memunculkan gagasan pendirian Central Serikat Islam (CSI) yang berkedudukan di surakarta. H.O.S.Tjokroaminoto terpilih menjadi ketua CSI yang pertama, yang dibantu oleh Abdoel Moeis, W. Wondoamisena, dan lain-lain. CSI ini merupakan Pengurus besar yang di pimpin acara langsung gerak langkah semua cabang SI. Adapun tujuan pendirian CSI adalah: Pertama utuk meningkatkan kehidupan pribumi. Kedua memberi nasehat dan pertolongan kepada perhimpunan-perhimpunan yang serupa dalam mencapi tujuan. ketiga bekerja sama organisasi-organisasi lain yang sejenis.
8. JIB (Jong Islamienten Bond)
                 JIB(Jong Islamienten Bond) atau Ikatan Pemuda Muslim didirikan oleh Haji Agus Salim pada awal 1925 di Yokyakarta denagan ketuanya R.J sjamsuridjal, mantan ketua Jong Java (Pemuda Jawa). Organisasi ini dirancang –seabagaimana terlihat namanya yang berbau Belanda, yaitu untuk memberi kesempatan orang-orang Indonesia berpendidikan barat deangan organisasi politik yang berdasarkan keagamaan di pusat kehiduapan politik kolonial. JIB menjadi salah satu wadah perekrutan penting bagi prwujudan politik renaisans Islam.
9. MIAI (Majlis al-Islami al-A’la  Indonesiy)
                        Komunikasi yang kurang baik di antara organisasi Islam tidak jarang membawa pergesekan-pergesekan dan bahkan konflik diantara umat Islam. Kesadaran yang mendalam akan pentingnya memperbaiki komunikasi antara partai-partai dan organisasi yang bedasarkan Islam, maka K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah), K.H.A. Wahab Chasbullah  dan (NU) dan pemimpin Islam lainnya  dari SI, al-Irsyad, al-Islam (Organisasi Islam  Lokal di Solo), persyarikatan Ulama  (Majalengka, Jawa Barat) dan lain-lain telah berasil membentuk suatu badan federatif yang disebut dengan Majlis al-Islamiy al-A’la Indonesiy (Majlis Tinggi Islam Indonesia). Majlis yang lebih dikenal dengan MIAI ini didirikan di Surabaya pada 21 September 1937.
                        Inisiatif ke arah persatuan dan saling pengertian tersebut juga didorong oleh pertama, oposisi meningkatnya campur tangan pemerintah dan masalah-masalah umat Islam pada 1930-an. Kedua, usaha-usaha politis yang bercorak Islam pada waktu itu  yanga masih berserakan dan karena itu persatuan amat diperlakuan kerangka perjuangan melawan Belanda. Adanya fraksi-fraksi dalam persoaalan khalifahdikalanga umat perlu dibenahi atas dasar persaudaraan dalam MIAI. Ketiga, adanya contoh yang kompetitif dari golongan nasionalis sekuler yang juga yang mempersatukan dirinya. Keempat, meningkatnya keprihatinan tentang daya tarik nasionalisme sekuler indonesia yang semakin menyebar dan menyadarkan mereka untuk menghadapi bersama. Untuk itu kaum modernis dan tradisionalis perlu duduk bersama-sama dalam satu wadah.



C.    Peran Islam dalam Mengusir Penjajah 
Karena keterbatasan alat komunikasi dan transpormasi proklamasi kemerdekaan  tidak dapat diketahui serentak di seluruh wilayah Indonesia. Namun proklamasi berangsur-angsur sampai kepada rakyat di daerah mulai dari kota ke desa-desa sekitar. Sekalipun tanpa komando, proklamasi kemerdekan disebut gegap-gempita. Sebagai penduduk kota, terutama apa yang harus dikerjakan, yaitu mempertahankan proklamasi yang kadang-kadang muncul dengan caranya sendiri-sendiri.[7]
Ketika itulah Bung Tomo, pimpinan pemberontak rakyat Indonesia, makin gencar menggelorakan semngat rakyat dengan pidato-pidato yang disiarkan di radio. Tanggal 28 Oktober, ribuan pemuda yang telah mendapatkan senjara dari Jepang menyerbu tangsu-tangsi sekutu, dalam sehari semlam situasi yang di hadapi tentara Inggris telah semikian kritis, sehingga yang dihadaoi tentara Inggris telah demikian kritis, sehingga Jenderal Mayor Hawthorn, Panglima Divisi 23, meminta bantua pemerintah Republik Indonesia, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan Menteri Penerangan Amir Syarifuddin terbang ke Surabaya mengatur penghentian permusuhan.
Kondisi seperti ini terjadi lagi pada tanggal 10 November Bung Tomo kembali menyerukan rakyat untuk siap siaga, tak henti-hentinya mengorbarkan semangat rakyat dengan pekikan “Allahu Akbar.” Para ulama di kampung-kampung mengarahkan lasykarnya untuk jihad si sabilillah. Pertempuran dasyat pun berkobar. Selama lebih dari tiga minggu pertempuran di jalan-jalan berlangsung dengan sengit. Para pemuda Jawa Timur dari segala barisan berdatangan. Ribuan rakyat dan pemuda Surabaya gugur dalam kondisi penuh semangat kepahlawanan. Walaupun kota Surabaya akhirnya jatuh ke tangan sekutu, pasukan TKR dan barisan pemuda mendur kearah Sidoaro dan Mojokerto, tetapi kepahlaawanan penduduk Surabaya telah terukir. Tanggal 10 November tercata sebagai Hari Pahlawan.
Barisan yang berusaha untuk memprtatahnkan kemerdekaan berasal dari bermacam-macam kelompok dan daerah DI Jakarta, pemuda-pemudanyang sebelumnya membentuk kelompok politik, membentuk komite vam Aktie bemarkas di Jalan Menteng Raya Nomor 31. Kelompok ini kemudia bergabung denganAPI (Angkata Pemuda Indonesia), BARA (Barisan Rakyat Indonesia), dan BBI (Barisan Buruh Indonesia). Di Jawa lahir Hisbullah, Sabillah, barisan Bentang, Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), dan lain-lain. Setelah itu lahir juga barisan-barisan pelajar seperti Tentara Pelajaran. Di Semarang lahir AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia), di Surabaya lahir PRI (Pemuda Rakyat Indonesia). Di Aceh ada Pemuda Republik Indonesia (PRI) dipimpin oleh A. Hasyimi, di sumatra Utara ada Pemuda Republik Indonesia Andalas, dan lain-lain. Selain organisasi seperti Barisan Kiai, Barisan Sabil, Islam daerah Pekalongan, AOI (Angkatan Oemat Islam) Kabumen.
Selama pendudukan Jepang, kelompok-kelompok pemuda tersebut melancarkan sikap anti Belanda (Barat-Kristen)..Tujuan semula untuk memperoleh dukungan penduduk Indonesia yang beragama Islam dalam perang, tetapi hasilnya adalah pengagalangan kekuatan Islam pada seluruh lapisan. Tetantar Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk masa jepang, memperlihatkan ciri Islam, kesatuan terlatih secara militer menggunakan nama Islam, kesatuan terlatih secara militer menggunakan ciri Islam “Hisbullah” Kader-kadr pertama Hisbullah dilatih di Cibarusa, Januari 1945. Pada pemulaan revolusi keanggotaan Hisbullah baru 5000 orang, setahun kemudian telah berjumlah 300.000 orang. Kader-kader Peta dan Hisbullah yang telah terlatih militer melatih pemuda-pemuda daerah untuk memeroleh latihan militer. Pemuda-pemuda daerah itu sebagai besar adalah santri dan kiai. Sebagaimana si ketahui, kiai-kiai di jawa tersebar di pedesaan dan memiliki pengaruh mendalam terhadap fanatisme keislaman masyarakat. Sekali kiai mengatakan “Perang melawan kolonia untuk mempertahankan kemerdekaan itu wajib,” para pengikutnya akan secara sadar mengikutnya. Ketaatan ini diperkuat oleh kepandaian kia-kiai tertentu memberikan kekuatan magis ataupun wirid=wirid. Disamping itu, organisasi-organisasi besar Islam seperti Masyumi, NU, dan Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa perang melawan Sekutu/Belanda itu adalah jihad, mengikuti jihad adalah wajib ain, mati dalam medan perang adalah syahid.
Bagi Inggris, pengalaman perang Surabaya memberi pelajaran bahwa tugas utama mereka adalah menyelenggarakan pembebasan tawanan perang dan pelucutan senjata Jepang, bukan menolong Belanda. Sejak itu Ingris mengusahakan dimungkinkannya perundingan antara Belanda dan Indonesia dan secara bertahap berusaha mengundurkan diri dari operasi mikiter. Inggris menjadi perantara pembicaraan antara van Mook dengan Syahrir. Usaha itu nantinya akan menghasilkan Perjanjian Lingggarjati (November 1946) yang  mengakui secara de facto Republik Indonesia di Sumatra, Jawa, dan Madura. Bagi Inggris selnjutnya menyelesaikan tugas sebaik-baiknya. Menjelang akhir tahun 1946 tentara mereka yang merupakan kesatuan AFNEI dapat meninggalkan Indonesia. Tanggal 29 November 1946 pasukan terakhir Inggris meninngalkan Indonesia.
Sepeninggalan Inggris, Belanda memberikan penafsiran perjanjian Liggarjati dengan interpretasi yang menguntungkan diri mereka sendiri dengan tidak  mentaatinya. Karena itu, tanggal 20 Juli 1947 Belanda melakukan serangan besar-besaran ke sasaran strategis daerah terpenting secara ekonomis seperti daerah-daerah yang berdekatan dengan Surabaya, Semarang, Priangan, dan Sumatra Timur yang merupakan daerah perkebunan. Palembang pusat instalasi minyak, dan Padang. Jatuhnya daerah-daerah itu memang memperlemah kedudukan Repulik, tatapi tidak dapat menghapuskan pemerintah Republik justru memperkuat tekad untuk melawan Belanda. Sekali lagi peranan tentara dan barisan pemuda, termasuk yang berasal sari pesantren, dan rakyat perdesaan di bawah komando kiai memegang peranan di mana-mana, ditambah lagi simpati dan peranan pelajar-palajar Islam (santri) yang sedang belajar di banyak negara Timur Tengah memegang peranan sebagai cikal-bakal pengakuan dunia internasional.
Agresi militer Bbelanda ini diakhiri dengan berbagai proses perundingan. Namun, perundingan  yang dimulai di kapal Renvile berakhir dengan agresi (serangan besar-besaran) kedua yang ditujukan ke ibukota Repubik. Tanggal 19 Desember 1948 Belanda menyerang ibukota Republik Yogyakarta (ibukta pengungsian karena sebelumnya ibukota adalah Jakarta) para pemimpin Republik (Soekarno-Hatta, dan lain-lain) di tangkap dan diasingkan ke Bangka dan Prapat. Seluruh wilayah RI jatuh ke tangan Belanda kecuali Aceh. Mereka mengira dengan suksenya penyerangan ini riwayat Republik Indonesia berakhir.Nyatanya Belanda hanya menguasai daerah perkotaan dan jalur-jalur penting. Bngasa Indonesia tetap hidup dan mendirikan di Halahan, sebelah Barat Laut Payakumbuh, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan Mr. Syarifuddin Prawiranegara menjadi ketua dan Mr. T. Moh. Hassan sebagai wakilnya.
Belanda memang menduduki ibukota, tetapi mereka melihat kenyataan bahwa Republik dengan PDRI-nya tetap menjalankan funsinya. Rakyat Indonesia tetap merdeka, memiliki pemerintahan serta angakatan bersenjata. Buktinya adalah terjajdinya rentetan peristiwa: selain pembentukan PDRI, juga diadakan Konferensi New Delhi, Sidang Dewan Keamanan PBB ( Januari 1949), serangan Umum 1 Maret 1949, Didang Dewan Keamanan PBB Maret 1949, dan Perundingan Roem-Royen. Perjanjian Roem-Royen ini menjadi dasar diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar di Den Haag tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949. Hasil konferensi ini adalah penyerahan kedaulatan oleh Belanda kepada Indonesia menjadikan berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tanggal 27 Desember 1949.
Dengan penyerahan ini masa perjuangan fisik dengan semangat “Allahu Akbar” selesai, telah membawa Indonesia diakui dunia internasional.[8]









BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sebelum abad-20 perjuangan bangsa Indonesia masih bersifat keaderahan, perjuangan berbentuk perlawanan fisik, melalui peperangan. Abad-20 menjadi awal abad kebangkitan bagi Indonesia. Di abad ini Nasionalisme sudah terlihat. Perjuangan bangsa Indonesia sudah bersifat nasional tidak lagi bersifat keaderahan yang dipimpin oleh golongan terpelajar (cendekiawan).
Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari peran penting agama Islam.Karena tanpa adanya pergerakan yang dilakukan oleh Islam, maka kemerdekaan NKRI tidak bisa dicapai. Tanpa Islam bisa jadi saat ini kita masih dijajah oleh para penjajah. Maka bisa dikatakan tanpa Islam tidak ada kemerdekaan.

B.     Saran
         Dalam penyusunan makalah ini kami sadar banyak terdapat kesalahan dalam penyusunan makalah. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca khusunya dosen Pembina mata kuliah Sejarah Islah Asia Tenggara sangat kami harapkan demi kesempurnaan pembuatan makalah selanjutnya.











DAFTAR PUSTAKA

Sartono Kartodirdjo, Pengantar sejarah Indonesia baru, sejarah pergerakan nasional, jilid 2. PT Gramedia. Jakarta 1990, Hal 102
Sartono Kartodirdjo, Pengantar sejarah Indonesia baru, jilid 2. PT.Gramedia. Jakarta 1990, Sejarah Hal 110
Sartono Kartodirdjo, Pengantar sejarah Indonesia baru, PT. Gramedia. Jakarta 1990, Hal 202
Huda Nor, Sosial Intelektual Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2015
Yatim, Badri.Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, PT RajaGrafindo Persada. Jakarta 2010
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT RajaGrafindo Persada. Jakarta 2007














[1] Prof. Dr. Musyrifah Susanto, sejarah peradaban islam, PT  RajaGrafindo Persada, Jakarta 2007. Halaman 46-48
[2] Badri Yatim, SEJARAH PERADABAN ISLAM Dirasah Islamiyah II, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta 2010. Halaman 265-267
[3] Sartono Kartodirdjo, pengantar sejarah Indonesia baru:1500-1900 jilid 1, PT Gramedia, Jakarta 1998. Halaman 102
[4] Sartono Kartodirdjo, pengantar sejarah Indonesia baru:sejarah pergerakan nasional, jilid 2. PT. Gramedia. Jakarta 1990. Hal 110
[5]Sartono Kartodirdjo, pengantar sejarah Indonesia baru;PT. Gramedia. Jakarta 1990. Hal 202
[6] Huda Nor. Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers, 2015
[7] Prof. Dr. Musyrifah Susanto, opcit,. Halaman. 53
[8] Prof. Dr. Musyrifah Susanto, opcit,. Halaman, 55-60

No comments:

Post a Comment