BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sesudah
abad 20 perjuangan bangsa Indonesia sudah bersifat nasional, yaitu seperjuangan
tidak lagi bersifat nasionalisme sempit, namun perjuangan ditujukan untuk
mencapai tujuan Indonesia Merdeka. Munculnya kata “Indonesia” sebagai identitas
bangsa menyatukan berbagai suku, agama, dan budaya yang ada di Nusantara untuk
bersatu padu mengusir penjajah.Bangkitnya pergerakan di indonesia itu ditandai
dengan perubahan kesadaran politik bangsa, bangkitnya perjuangan dan pergerakan
modern kepulauan nusantara dan pertumbuhan pemikiran politik yang jauh
berkualitas.
Perjuangan
dipimpin oleh golongan terpelajar (cendekiawan). Pemberian kesempatan bagi
pribumi untuk mengenyam pendidikan disekolah-sekolah Belanda pada awal abad
ke-20 dimaksudkan untuk memperoleh tenaga kerja murah, namun justru melahirkan
golongan cendekiawan yangn kemudian memimpin perjuangan melawan kolonialisme
Belanda. Mereka adalah Sutomo, Suardi Suryaningrat, Soekarno, Moh. Hatta,
Sahril dan lain-lain. Karena perjuangan melalui organisasi modern menerapkan
sistem kaderisasi, maka meski pemimpin tertangkap dan dipenjara, perlawanan
tetap berlanjut.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan Islam di Indonesia setelah abad
ke 20 – kemerdekaan adalah sebagai berikut :
- Bagaimana
organisasi-organisasi Islam pada masa Pra-Kemerdekaan?
- Bagaimana
peran Islam dalam mengusir penjajah?
-
Bagaimana Islam Indonesia di awal
kemerdekaan?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam pembahasan
Islam di Indonesia setelah abad ke 20 – kemerdekaan adalah sebagai berikut :
- Untuk
mengetahui organisasi-organisasi Islam pada masa Pra-Kemerdekaan
- Untuk
mengetahui peran Islam dalam mengusir
penjajah
- Untuk
mengetahui Islam Indonesia di awal kemerdekaan
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pra-Kemerdekaan
(Masa Revolusi)
Keadaan Perang Asia Timur
berkembang sangat cepat, Rusia menyusul mengumumkan perang kepada Jepang,
sehingga Jepang mengalami kekalahhan demi kekalahan. Pada tanggal 6
Agustus 1945 Hiroshima dibom. Tanggal 7
Agustus 1945 pemerintah Jepang membentuk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia). Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman diundang menemui Marsekal
Terauchi di Dalai (Vietnam). Tanggal 8 Agustus Mansuria diduduki Rusia. Tanggal
9 Agustus Nagasaki dibom. Dalam pertemuan
dengan Terauchi itu Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman mendapat jaminan bahwa
kemerdekaan Indonesia tak menjadi masalah lagi, waktunya terserah mereka.
Jepang akan membantu kapan saja Indonesia siap.
Ketika Soekarno dan kawan-kawan sampai di Saigon, mereka mendengar
tentang perkembangan perang, maka Hatta menyadari bahwa kekalahan Jepang hanya
tinggal nunggu waktu. Sekembalinya ke Indonesia, Syahrir menemui Hatta dan
mendesak Soekarno untuk mengumumkan kemerdekaan Indonesia tanpa PPKI yang di
bnetuk Jepang. Namun usulan Syahrir tidak dapat di terima Soekarno. Ketika
Soekarno-Hatta ingin mencari kepastian apakah betul Jepang telah menyerah,
Laksamana Maeda tidak dapat menjawab karena belum ada intruksi dari Tokyo.
Karena itu Hatta meminta Soedardjo untuk mempersiapkan rapat PPKI yang akan diadakan
tanggal 16 Agustus 1945. Tanggal 15 Agustus Soedardjo datang ke rumah Hatta
yang sedang membuat teks proklamasi. Di sana ada beberapa pemuda yang memaksa
Soekarno mengumumkan kemerdekaan malam itu juga melalui radio. Karna Soekarno
menolak, Wikana (juru tulis pemuda) mengancam bahwa darah akan mengalir jika
proklamasi tidak diumumkan, tetapi Soekarno tetap menolak.
Perubahan situasi yand demikian
cepat menyebabkan berbagai pihak harus mencari tindakan yang paling tepat di
saat-saat genting. Baru saja sore itu Hatta mengatakan kepada dau orang pemuda
radikal bahwa ia suka revolusi tetapi tidak mau putsch yang akan menyeababkan korban sia-sia. Namun, kepastian
Jepang menimbulkan keterkejutan bagi para pemimpin yang telah merintis jalan ke
arah kemerdekaan secara teratur. Upaya mereka selama ini seakan-akan semua
hilang. Karena itu, menurut mereka, perlu kehatihatian yang tinggi. Sebaliknya,
para pemuda melihat bahwa ini kesempatan yang baik untuk menjalankan revolusi
kemerdekaan tanpa campur tangan Jepang.
Ketika Soekarno tetap menolak
para pemuda kecewa, tatapi mereka sadar tanpa Soekarno-Hatta mereka tidak
sanggup melancarkan revolusi. Oleh karena itu, akhirnya Soekarno-Hatta diculik.
Saat mereka baru saja selesai makan sahur tanngal 16 Agustus 1945, di bawah
pimpinan Soekarni, meraka dibawa ke Rengasdengklok. Di Jakarta, ketidak hadiran
Soekarno-Hatta yang mengundang rapat PPKI menimbulkan kekhawatiran. Namun,
rupanya barisan Peta (pemuda) tidak kompak sehingga yang semula merancanakan
revolusi tidak terjadi. Akhirnya, salah seorang anggota Peta menceritakan
kepada Soedardjo dan bersedia mengantar Soekarno-Hatta ke Jakarta.
Soekarno-Hatta diminta menemui
Jendral Nashimura yang dihadiri Laksamana Maeda. Nashimura mengatakan bahwa ia tidak bertanggung jawab lagi karena
ia panglima yang kalah perang. Oleh karena itu, akhirnya Soekarno membuat teks
proklamasi yang disetujui oleh PPKI. Pada subuh jam 3 pagi 17 Agustus 1945 teks
proklamasi selesai dibuat, jam 10.00 dikumandangkan di Pegangsaan Timur 56. Dengan
dibacakannya Proklamasi berarti Indonesia telah merdeka.[1]
Pada waktu proklamasi tanggal 17
Agustus 1945, Piagam Jakarta sama sekali tidak digunkan. Soekarno-Hatta justru
membuat teks proklamasi yang lebih singkat, karena ditulis secara tergesa-gesa.
Perlu diketahui, menjelang kemerdekaan, setelah Jepang tidak dapat menghindari
kekalahan dari tentara sekutu, BPUPKI ditingkatkan menjadi Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Berbeda dengan BPUPKI yang khusus untuk pulau
jawa, PPKI .merupakan perwakilan daerah seluruh kepulauan Indonesia. Perubahan
itu menyebabkan banyak anggota BPUPKI yang tidak muncul lagi, termasuk beberapa
orang anggota Panitia Sembilan. Persetase Nasionalis Islam pun merosot tajam.
Dalam suasana seperti itu, M.
Hatta dalam sidang PPKI setelah kemerdekaan berhasil dengan mudah meyakinkan
anggota bahwa hanya suatu konstitusi “sekular” yang mempunyai peluang untuk
diterima oleh mayoritas rakyat Indonesia. Tujuh kata dalam anak kalimat yang
tercantum dalam sila Pertama Pncasila dengan segala konsekuensinya dihapuskan
dari konstitusi. Bahkan, Kantor urusan Agama seperti yang diperoleh Islam
selama pendudukan Jepang, oleh Pantia
pun ditolak.
Oleh golongan nasional “sekular”
keputusan itu dianggap sebagai gentleman’s agrement kedua yan
menghapuskan Piagam Jakarta sebagai gentlemen’s agrement pertama. Sementar itu, keputusan yang sama
dipandang oleh gologan nasionalis Islam sebagai mengkhianati gentleman’s agrement itu sendiri. Para
nasionalis Islam mengetahui bahwa, Indoesia Merdeka yang mereka perjuangkan
dengan penuh prngorbanan itu, jangankan berdasarkan Islam, Piagam Jakarta pun
tidak. Oleh sebab itu, bisa dibayangkan bagaimana kecewanya para nasionalis
Islam.
Dengan demikian, jelas bahwa
keputusan tentang penghapusan tujuh kata-kata dari Piagam Jakarta itu sama
sekali tidak mengakhiri konflik ideologi yang telah belangsung lama pada masa kemedekaan, Para nasionalis
Islam harus menerima kenyataan itu, karena mereka menyadari bahwa masa revolusi
bukanlah saat yang tepat untuk mendesak terlaksananya cita-cita Islami mereka.
Apabila, Soekarno dan Hatta menekankan sifat kesementaraan UUD yang diputuskan
pada tanggal 18 Agustus 1945 itu. Soekarno mengatakan: “Nanti ..... dalam
suasana yang lebih tenteram, kita tentu ... dapat membuat UUD yang lebih
lengkap, lebih sempurna.
Yang sedikit agak melegakan hari
umat Islam adalah keputusan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNPI), pengganti
PPKI yang bersidang tanggal 25, 26, dan 27 November 1945. Komite yang dipimpin
oleh Sutan Syahrir, pimpinan utama
Partai Sosialis Indonesia (PSI) itu antara lain, membahas usul agar
dalam Indonesia merdeka ini soal-soal
keagamaan digarap oleh satu kementerian tersendiri dan tidak lagi diperlukan
sebagai bagian tanggung jawab Kementrian Pendidikan. Sedikit banyak,
keputusan tentang Kementrian Agama ini
merupakan semacam konsesi kepada kaum Muslimin yang bersifat kompromi, kompromi antara teori
sekular dan teori Muslim.
Umat islam memang gigih
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari agresi Belanda yang datang dengan
bantuan tentara sekutu untuk kembali menjajah Indonesia. Tokoh-tokohnya duduk
dalam posisi-posisi politik penting, baik dalam kabinet maupun memimpikan
perjuangan fisik dan diplomatik. Sementara itu, rakyat terlibat langsung dalam
perjuangan fisik. Para ulama di kampung-kampung menyerukan perang jihat fi sabilillah. Rakyat berjuang dengan
meneriakkan Allahu Akbar, sampai kemerdekaan penuh Indonesia tercapai.[2]
B.
Organisasi-organisasi
Islam pada Masa Pra-Kemerdekaan
Perjuangan
melalui organisasi pergerakan nasional. Upaya mencapai kemerdekaan dilakukan
dengan cara-cara modern, misalnya lewat media massa, demo, pemogokan menggalang dukungan politik dari dunia luar.
Dalam perjuangan bangsa Indonesia sesudah abad ke-20, ditandai dengan
bermunculannya organisasi-organisasi bersifat nasionalis.
1. Budi Utomo
Sejak dokter Wahidin pada tahun-tahun 1906 dan 1907 melancarkan suatu
gerakan untuk mendirikan gerakan untuk mendirikan studiefonds (beasiswa). Upaya
Wahidin ini bertujuan untuk meningkatkan martabat rakyat dan membantu para
pelajar yang kekurangan dana. Dari kampanye tersebut akhirnya pada tanggal 20
Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Sutomo. Organisasi Budi
Utomo artinya usaha mulia.[3]
Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik. Tujuan
utamanya adalah kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal ini terlihat dari tujuan yang
hendak dicapai yaitu perbaikan pelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan
wakaf yang mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja anak-anak
bersekolah, membuka sekolah pertnian, memajukan teknik dan industri,
menghidupkan kembali seni dan kebudayaan bumi putera dan menjujung tinggi
cita-cita kemanusiaan dalam rangka mencapai kehidupan rakyat yang layak.
Berdirinya Budi Utomo menjadi tonggak awal perlawanan bangsa Indonesia
terhadap Belanda, dari yang semula menggunakan perlawanan fisik dan kontak
senjata yang dirasa sangat tidak efektif karena senjata yang digunakan oleh
bangsa Indonesia tidak dapat mengimbangi senjata yang dimiliki oleh Belanda dan
akhirnya beralih ke perlawanan yang bersifat politik dan diplomatis. Sebagai
awal dari perubahan pemikiran bangsa Indonesia akhirnya tanggal 20 Mei 1908
ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
2. Serekat Islam
Pada mulanya Serekat Islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang
yang bernama Serekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota
Solo oleh Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil
oleh SDI adalah koperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia dibawah
panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang,
maka tidak memiliki anggota yang cukup banyak. Oleh karna itu agar memiliki
anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada 18 September 1912, SDI
diubah menjadi SI (Serekat Islam). Organisasi Serekat Islam (SI) didirikan oleh
beberapa tokoh SDI seperti O.S Cokroaminoto, Abdul Muiz, dan Agus salim.
Serekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi agama Islam.
Latar belakang ekonomi berdirinya Serekat Islam adalah perlawanan
terhadap para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina, isyarat pada umat
Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya dan membuat front
melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.
Secara umum, pendidikan Islam pada masa penjajahan dapat dipetakan
dalam dua periode besar: masa penjajahan Belanda dan masa penjajahan
Jepang.Pada awalnya pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan sesudah
pengajian al-Qur’an awal abad 19 di seluruh wilayah Indonesia dan sampai
akhirnya tahun 1905 Belanda mengeluarkan peraturan bahwa orang yang akan
memberi pengajaran harus minta izin dulu. Ini adalah salah satu trik Belanda
untuk mengawasi Islam di Indonesia, terutama di Jawa. Akibatnya guru dan
pengajar agama Islam tidak memiliki keluasan dalam bergerak karena diawasi dan
selalu dicurigai. Hal inilah yang menjadikan pengajaran nilai-nilai Islam
menjadi tersendat-sendat. Bahkan perluasan agama Islam terhadap daerah-daerah
yang belum terjangkau oleh Islam terhambat.[4]
- Pendidikan Islam perspektif KH. Ahmad Dahlan
Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan menjadi
tenaga pengajar dikampungnya. Di samping itu, ia juga mengajar di sekolah
negeri, seperti Kweekscholl(sekolah
pendidikan guru) di Jetis Yogyakarta danOpleiding
School Voor Inlandhsche Amtenaren (QSVIA), yaitu sekolah untuk pegawai
pribumi) di Magelang. Karena menurut KH. Ahmad Dahlan pendidikan Islam
bertujuan pada usaha mebentuk manusia Muslim yang berbudi pekerti luhur, ‘alim
dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia
berjuang untuk kemajuan masyarakatnya. Berarti bahwa pendidikan Islam merupakan
upaya pembinaan pribadi muslim sejati yang bertaqwa, baik sebagai ‘Abd maupun khalifah fi al-ardl. Akhirnya KH. Ahmad
Dahlan kemudian memperkokoh kepribadian intelek ulama.
Sekolah-sekolah yang didirikan KH. Ahmad Dahlan cenderung menyesuaikan
dengan sistem pendidikan kolonial sekalipun hanya dalam tata cara
penyelenggaraan pendidikan. Atas dasar itu, KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1911
mendirikan “Sekolah Muhammadiyah” yang menempati sebuah ruangan dengan meja dan
papan tulis. Pelajaran yang diajarkan seperti ilmu bumi, ilmu alam, ilmu hayat
dan sebagainya.
Pada abad ke-20 dapat di katakan sebagai
Abad Nasionalisme, karena sejak abad ini mulai timbul kesadaran berbangsa dan
bernegara dengan ditandai adanya gerakan nasionalis dengan beberapa negara
untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa masing-masing. Bangkit nya pergerakan
di Indonesia juga ditandai dengan perubahan kesadaran politik berbangsa.Kesadaran
dan bangkitnya rasa nasionalisme dalam masyarakat Islam Indonesia juga dipengaruhi
oleh gerakan pembaruan Islam di Timur Tengah. Orang-orang Minangkabau mempunyai
peranan penting dalam gerakan pembaruan pertama Islam di Indonesia.
Pada 1906 telah terbit surat kabar pertama
berbahasa melayu,Al-Imam (“Pemimpin
Agama”) di Singapura koran ini menjadi analisis Islam modren pertama yang
benar-benar mendalam tentang persoalan agama,sosioal dan ekonomi. Seorang
muslim Minangkabau yang terlibat dalam Al-Imam
tersebut adalah syekh Thahir Jalaluddin (Muhammad Thahir Jalaluddin
al-azhari ,1869-1957) yang pernah menetap Makkah selama 12 tahun.
Selanjutnya di susul dengan jurnal
modernis pertama, Al-Munir,di dirikan
pada awal 1911 di pantai barat suamatra oleh H. Abdullah Ahmad, kemudian juga
menerbit majalah Al-Akhbar (majalah
berita) pada 1913 dan menjadi redaktur majaah Al-Islam yang di terbitkan oleh Serikat Islam,pada 1916 kelompok
ini juga mendirikan sekolah modren, seperti Sekolah Adabiyah pada 1909, Sekolah
Diniyah Puteri pada 1915, dan Sumatra Thawalib, semuanya di Padang Panjang [5]
Pada 1925 Haji Abdul Karim Amrullah(Haji
Rasul) membuka cabang Muhammadiyah di Minangkabau. Di sini, kedua organisasi
Sumatra Thawalib dan Muhammadiyah segera menjadi saluran-saluran politik radikal.
Bahkan, ketika terjadi pembrontakan komunis 1927 telah terjadi persekutuan
antara kaum komunis muda, beberapa ulama tradisional dan beberapa tamatan
Thawalib. Pada pertengahan 1930-an, tempat Thawalib yang terlarang di ambil
alih oleh organisasi lokal lainnya,Permi
(Persatuan Muslimin Indonesia).Namun,Permi
pun di lucuti, sehingga yang tinggal hanya Muhammadiyah.
Dalam
sejarah ada beberapa organisasi Islam yang dibentuk, diantaranya:
1. Jami’at al-Khair (Perserikatan
bagi Kebaikan)
Tepatnya
pada tahun 1905 komunitas Arab Batavia membentuk Jami’at al-Khair (Perserikatan bagi Kebaikan). Perserikatan ini
juga membuka sebuah sekolah modern dengan pembelajaran dalam bahasa Melayu.
Pada 1911 perserikatan ini mendatangkan seorang guru Islam modern Sudan bernama
Syekh Ahmad Sukarti (1872-1943). Namun, pertengkaran antara Sukarti dengan para
pemimimpin Jami’at al-Khair membuat
Sukarti membentuk organisasi
sendiri, al-Irsyad (Jam’iyyat
al-Islah wa al-Irsyad: perserikatan bagi perbaikan dan bimbingan) pada1915.Al-Irsyad mendirikan sekolah campuran
antara laki-laki dan perempuan yang pelajarannya disampaikan dalam bahasa
Melayu,Arab,Belanda. Walaupun sebagian besar orang-orang Arab,tetapi terdapat
pula beberpa orang Indonesia yang belajar lembaga itu.
Sementara itu, pada 1911, dilakukan
pembaharuan hati masyarakat Islam di Jawa Barat. Guru-guru bermazhab syaf’i
membentuk persyarikatan ulama yang
menerima beberapa ide pembaruan paham modern dan sedikit berhubungan dengan
pesantren tradisional. Usaha sosialnya adalah membuka sebuah sekolah (1916),
panti asuhan yang di kelolah oleh cabang wanitanya. Mereka juga melibatkan diri
dalam kegiatan- kegiatan ekonomi, seperti percetakan, pertenunan, dan
pertanian.
2.
Muhammadiyah
Organisasi
ini berdiri pada 18 nopember 1912 oleh kiai H. Ahmad Dahlan (1869-1923),
seorang pedagang yang saleh dari kauman –bagian kota yang penduduknya mayoritas
muslim dan santri dekat dengan masjid utama- Yogyakarta. Muhammadiyah menjauhi
kegiatan-kegiatan politik yang berorganisasi.
Seiring
berjalannya waktu, melalui dakwah yang intensip, pada awal 1920-an Muhammadiyah
mendapat sambutan di beberapa wilayah di luar Jawa. Pada 1925 Muhammadiyah
mempunyai anggota 4000 0rang. pada 1930 jumlah anggota organisasi ini sebanyak
24.000 orang; pada 1935 beranggotakan 43.000 orang. Tiga tahun kemudian,
Muhammadiyah mempunyai 852 cabang dengan keanggotaan total sekitar seperempat juta orang. Pada 1938 ini,
Muhammadiyah telah mengelola lebih kurang 834 masjid dan musallah, 31
perpustakaan umum, dan 1.774 sekolahan
–termasuk sekolah menengah sekolah guru.
Selain
itu, Muhammadiyah juga memiliki 5516 orang juru dakwah laki-laki dan 2.114 juru
dakwah perempuan. Hal ini telah mebuktikan peranan ritisan Muhammadiyah dalam Islam
Indonesia modern. Karenanya, demikian kata Ricklefs,dapat di ktakan bahwa
sejrah Islam modern di Indonesia sesuda 1925 adalah sejarah Muhammadiyah.
3. Persatuan
Islam(Persis)
Organisasi Persis berdiri pada tahun
1920-an oleh Haji Zamzam (1894-1952) dan Haji Muhammad Yunus di Bandung. Namun
saat berdirinya sampai 1940-an, pada umumnya persia kurang memberikan tekanan
bagi kegiatan organisasi sendiri. Organisasi ini tidak terlalu beminat pada
pembentukan banyak cabang semata-mata bergantung pada inisiatif peminat dan
tidak di dasarkan oleh suatu rencana yang di lakukan oleh pemimpin pusat.
Jumlah anggota di bandung sendiritidak pernah mencapai 300 orang. Pada 1930-an
dirasa perlu mempunyai propagandis. Karenanya,atas usaha A. Hasan seorang diri,
pesantren persis didirikan.
4. Nahdatul-Ulama (Kebangkitan
Ulama)
Perkembangan fatastis gerakan modernis
seperti yang di lakukan olehMuhammadiyah menarik minat beberapa kiai dan ulama
tradisional di Jawa untuk mendirikan organisasi baru. Pada 1926, beberapa kiai
di Jawa Tengah dan Jawa Timur mendirikan Nahlat
al-Ulama (Kebangkitan Ulama), sering di singkat dengan NU. Ini merupakan
organisasi pertama mereka yang begaya modern. Organisasi ini menarik beberapa orang terkemuka dan terhormat
semacam Kiai H. Hasyim asy’ari (1871-1974) yang kemudian menjadi ketua pertama
organisasi ini. Meskipun tidak spektakuler seperti Muhammadiyah,NU meniru
beberapa pembaruan kelompok medernis,dalam waktu yang singkat juga menandingi
gerak dakwahnya di luar pulau Jawa.[6]
Ali Haidar mencatat paling tidak empat
motif pembentukan organisasi Nahlat
al-Ulama. Motif pertama yang
mendasari gerakan para ulama pesantren membentuk NU ialah motif keagamaan
sebagai jihat fi sabilillah. Motif kedua ialah tanggung jawab pengembangan
pemikiran keagamaan yang ditandai dengan upaya melestarikan ajaran Mazhab AhlusSunnah wal Jama’ah. Yang ketiga adalah dorongan untuk mengembangkan masyarakat
pembentukan Nahdlatul Wathan,Tasywirul
Afkar dan Ta’mirul Masjid. Motif keempat
adalah motif politikyang ditandai dengan semangat nasionalisme ketika
pendiri UN itu mendirikan cabang SI di Makkah serta obsesi mengenai hari depan
negeri merdeka bagi umat Islam.
5. PUSA
(Persatuan Ulama-ulama Seluruh Aceh)
DiAceh juga muncul sebuah organisasi
yang disebut dengan PUSA (Persatuan Ulama-ulama Seluruh Aceh). PUSA dipimpin
oleh tengku Muhammad Daud Beureu pada 1939. Salah satu tujuanpendirian PUSA
adalah mengibarkan panji-panji modernisme yang dikombinsikan dengan corak
patriotisme Muslim Ace. Selain itu, PUSA ingin membendung pengaruh Muhammadiyah
yang dianggap asing. Walapun Muhammadiyah berasil membuka cabang-cabangnya di
Aceh,tapi para pendiri cabang tersebut dan juga mayoritas anggotanya adalah
orang-orang luar Aceh. Jadi, Muhammadiyah kurang mekar di kalangan penduduk
Aceh.
6. Serikat Islam (SI)
Tumbuhnya semangat dan
pembaruan Islam di Dunia. Islam juga telah menyadarkan akan pentingnya akan
organisasi politik. Salah satu organisasi politik Islam modern yang muncul
ketika itu adalah Serikat Islam (SI). SI merupakan metamorfose dari Serikat
Dagang Islam (SDI) yang didirikan di Surakarta (Solo) pada 1911 oleh seorang pedagang
muslim, Haji Sumanhudi. Perubahan nama dari SDI ke Simenjadikan organisasi ini
mempunyai perubahan orientasi: dari komersial ke politik. Organisasi ini
muncul, paling tidak disebabkan oleh dua hal. Pertama, daya dorongan ekonomi di balik kegiatan-kegiatan
organisasi ini berasal dari persaingan perdagangan dengan orang-orang Cina yang
tidak terkekang oleh kontrol-kontrol yang membatasi pemeritah kolonial. Kedua aktivitas keagamaan dalam
organisasi ini,sebagiannya telah dipacu oleh kegiatan-kegiatan missionaris
kristen yang semakin meningkat sejak 1810.
7. Central Serikat Islam (CSI)
Berdirinya cabang-cabag
SI lokal telah memunculkan gagasan pendirian Central Serikat Islam (CSI) yang
berkedudukan di surakarta. H.O.S.Tjokroaminoto terpilih menjadi ketua CSI yang
pertama, yang dibantu oleh Abdoel Moeis, W. Wondoamisena, dan lain-lain. CSI
ini merupakan Pengurus besar yang di pimpin acara langsung gerak langkah semua
cabang SI. Adapun tujuan pendirian CSI adalah: Pertama utuk meningkatkan kehidupan pribumi. Kedua memberi nasehat dan pertolongan kepada perhimpunan-perhimpunan
yang serupa dalam mencapi tujuan. ketiga bekerja
sama organisasi-organisasi lain yang sejenis.
8. JIB (Jong Islamienten Bond)
JIB(Jong Islamienten Bond) atau Ikatan
Pemuda Muslim didirikan oleh Haji Agus Salim pada awal 1925 di Yokyakarta
denagan ketuanya R.J sjamsuridjal, mantan ketua Jong Java (Pemuda Jawa). Organisasi ini dirancang –seabagaimana
terlihat namanya yang berbau Belanda, yaitu untuk memberi kesempatan
orang-orang Indonesia berpendidikan barat deangan organisasi politik yang
berdasarkan keagamaan di pusat kehiduapan politik kolonial. JIB menjadi salah
satu wadah perekrutan penting bagi prwujudan politik renaisans Islam.
9. MIAI (Majlis al-Islami al-A’la Indonesiy)
Komunikasi
yang kurang baik di antara organisasi Islam tidak jarang membawa
pergesekan-pergesekan dan bahkan konflik diantara umat Islam. Kesadaran yang
mendalam akan pentingnya memperbaiki komunikasi antara partai-partai dan
organisasi yang bedasarkan Islam, maka K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah), K.H.A.
Wahab Chasbullah dan (NU) dan pemimpin
Islam lainnya dari SI, al-Irsyad,
al-Islam (Organisasi Islam Lokal di
Solo), persyarikatan Ulama (Majalengka,
Jawa Barat) dan lain-lain telah berasil membentuk suatu badan federatif yang
disebut dengan Majlis al-Islamiy al-A’la
Indonesiy (Majlis Tinggi Islam Indonesia). Majlis yang lebih dikenal dengan
MIAI ini didirikan di Surabaya pada 21 September 1937.
Inisiatif
ke arah persatuan dan saling pengertian tersebut juga didorong oleh pertama, oposisi meningkatnya campur
tangan pemerintah dan masalah-masalah umat Islam pada 1930-an. Kedua, usaha-usaha politis yang bercorak
Islam pada waktu itu yanga masih
berserakan dan karena itu persatuan amat diperlakuan kerangka perjuangan
melawan Belanda. Adanya fraksi-fraksi dalam persoaalan khalifahdikalanga umat perlu dibenahi atas dasar persaudaraan dalam
MIAI. Ketiga, adanya contoh yang
kompetitif dari golongan nasionalis sekuler yang juga yang mempersatukan
dirinya. Keempat, meningkatnya
keprihatinan tentang daya tarik nasionalisme sekuler indonesia yang semakin
menyebar dan menyadarkan mereka untuk menghadapi bersama. Untuk itu kaum
modernis dan tradisionalis perlu duduk bersama-sama dalam satu wadah.
C.
Peran
Islam dalam Mengusir Penjajah
Karena keterbatasan alat komunikasi dan
transpormasi proklamasi kemerdekaan
tidak dapat diketahui serentak di seluruh wilayah Indonesia. Namun
proklamasi berangsur-angsur sampai kepada rakyat di daerah mulai dari kota ke
desa-desa sekitar. Sekalipun tanpa komando, proklamasi kemerdekan disebut
gegap-gempita. Sebagai penduduk kota, terutama apa yang harus dikerjakan, yaitu
mempertahankan proklamasi yang kadang-kadang muncul dengan caranya
sendiri-sendiri.[7]
Ketika itulah Bung Tomo, pimpinan
pemberontak rakyat Indonesia, makin gencar menggelorakan semngat rakyat dengan
pidato-pidato yang disiarkan di radio. Tanggal 28 Oktober, ribuan pemuda yang
telah mendapatkan senjara dari Jepang menyerbu tangsu-tangsi sekutu, dalam
sehari semlam situasi yang di hadapi tentara Inggris telah semikian kritis,
sehingga yang dihadaoi tentara Inggris telah demikian kritis, sehingga Jenderal
Mayor Hawthorn, Panglima Divisi 23, meminta bantua pemerintah Republik
Indonesia, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, dan Menteri Penerangan Amir
Syarifuddin terbang ke Surabaya mengatur penghentian permusuhan.
Kondisi seperti ini terjadi lagi pada
tanggal 10 November Bung Tomo kembali menyerukan rakyat untuk siap siaga, tak
henti-hentinya mengorbarkan semangat rakyat dengan pekikan “Allahu Akbar.” Para
ulama di kampung-kampung mengarahkan lasykarnya untuk jihad si sabilillah. Pertempuran dasyat pun berkobar. Selama lebih
dari tiga minggu pertempuran di jalan-jalan berlangsung dengan sengit. Para
pemuda Jawa Timur dari segala barisan berdatangan. Ribuan rakyat dan pemuda
Surabaya gugur dalam kondisi penuh semangat kepahlawanan. Walaupun kota
Surabaya akhirnya jatuh ke tangan sekutu, pasukan TKR dan barisan pemuda mendur
kearah Sidoaro dan Mojokerto, tetapi kepahlaawanan penduduk Surabaya telah
terukir. Tanggal 10 November tercata sebagai Hari Pahlawan.
Barisan yang berusaha untuk
memprtatahnkan kemerdekaan berasal dari bermacam-macam kelompok dan daerah DI
Jakarta, pemuda-pemudanyang sebelumnya membentuk kelompok politik, membentuk komite vam Aktie bemarkas di Jalan
Menteng Raya Nomor 31. Kelompok ini kemudia bergabung denganAPI (Angkata Pemuda
Indonesia), BARA (Barisan Rakyat Indonesia), dan BBI (Barisan Buruh Indonesia).
Di Jawa lahir Hisbullah, Sabillah, barisan Bentang, Pesindo (Pemuda Sosialis
Indonesia), dan lain-lain. Setelah itu lahir juga barisan-barisan pelajar seperti
Tentara Pelajaran. Di Semarang lahir AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia),
di Surabaya lahir PRI (Pemuda Rakyat Indonesia). Di Aceh ada Pemuda Republik
Indonesia (PRI) dipimpin oleh A. Hasyimi, di sumatra Utara ada Pemuda Republik
Indonesia Andalas, dan lain-lain. Selain organisasi seperti Barisan Kiai,
Barisan Sabil, Islam daerah Pekalongan, AOI (Angkatan Oemat Islam) Kabumen.
Selama pendudukan Jepang,
kelompok-kelompok pemuda tersebut melancarkan sikap anti Belanda
(Barat-Kristen)..Tujuan semula untuk memperoleh dukungan penduduk Indonesia
yang beragama Islam dalam perang, tetapi hasilnya adalah pengagalangan kekuatan
Islam pada seluruh lapisan. Tetantar Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk
masa jepang, memperlihatkan ciri Islam, kesatuan terlatih secara militer
menggunakan nama Islam, kesatuan terlatih secara militer menggunakan ciri Islam
“Hisbullah” Kader-kadr pertama Hisbullah dilatih di Cibarusa, Januari 1945.
Pada pemulaan revolusi keanggotaan Hisbullah baru 5000 orang, setahun kemudian
telah berjumlah 300.000 orang. Kader-kader Peta dan Hisbullah yang telah
terlatih militer melatih pemuda-pemuda daerah untuk memeroleh latihan militer.
Pemuda-pemuda daerah itu sebagai besar adalah santri dan kiai. Sebagaimana si
ketahui, kiai-kiai di jawa tersebar di pedesaan dan memiliki pengaruh mendalam
terhadap fanatisme keislaman masyarakat. Sekali kiai mengatakan “Perang melawan
kolonia untuk mempertahankan kemerdekaan itu wajib,” para pengikutnya akan
secara sadar mengikutnya. Ketaatan ini diperkuat oleh kepandaian kia-kiai
tertentu memberikan kekuatan magis ataupun wirid=wirid. Disamping itu,
organisasi-organisasi besar Islam seperti Masyumi, NU, dan Muhammadiyah
mengeluarkan fatwa bahwa perang melawan Sekutu/Belanda itu adalah jihad,
mengikuti jihad adalah wajib ain, mati
dalam medan perang adalah syahid.
Bagi Inggris, pengalaman perang Surabaya
memberi pelajaran bahwa tugas utama mereka adalah menyelenggarakan pembebasan
tawanan perang dan pelucutan senjata Jepang, bukan menolong Belanda. Sejak itu
Ingris mengusahakan dimungkinkannya perundingan antara Belanda dan Indonesia
dan secara bertahap berusaha mengundurkan diri dari operasi mikiter. Inggris
menjadi perantara pembicaraan antara van Mook dengan Syahrir. Usaha itu
nantinya akan menghasilkan Perjanjian Lingggarjati (November 1946) yang mengakui secara de facto Republik Indonesia di Sumatra, Jawa, dan Madura. Bagi
Inggris selnjutnya menyelesaikan tugas sebaik-baiknya. Menjelang akhir tahun
1946 tentara mereka yang merupakan kesatuan AFNEI dapat meninggalkan Indonesia.
Tanggal 29 November 1946 pasukan terakhir Inggris meninngalkan Indonesia.
Sepeninggalan Inggris, Belanda
memberikan penafsiran perjanjian Liggarjati dengan interpretasi yang
menguntungkan diri mereka sendiri dengan tidak
mentaatinya. Karena itu, tanggal 20 Juli 1947 Belanda melakukan serangan
besar-besaran ke sasaran strategis daerah terpenting secara ekonomis seperti
daerah-daerah yang berdekatan dengan Surabaya, Semarang, Priangan, dan Sumatra
Timur yang merupakan daerah perkebunan. Palembang pusat instalasi minyak, dan
Padang. Jatuhnya daerah-daerah itu memang memperlemah kedudukan Repulik, tatapi
tidak dapat menghapuskan pemerintah Republik justru memperkuat tekad untuk
melawan Belanda. Sekali lagi peranan tentara dan barisan pemuda, termasuk yang
berasal sari pesantren, dan rakyat perdesaan di bawah komando kiai memegang
peranan di mana-mana, ditambah lagi simpati dan peranan pelajar-palajar Islam
(santri) yang sedang belajar di banyak negara Timur Tengah memegang peranan
sebagai cikal-bakal pengakuan dunia internasional.
Agresi militer Bbelanda ini diakhiri
dengan berbagai proses perundingan. Namun, perundingan yang dimulai di kapal Renvile berakhir dengan
agresi (serangan besar-besaran) kedua yang ditujukan ke ibukota Repubik. Tanggal
19 Desember 1948 Belanda menyerang ibukota Republik Yogyakarta (ibukta
pengungsian karena sebelumnya ibukota adalah Jakarta) para pemimpin Republik
(Soekarno-Hatta, dan lain-lain) di tangkap dan diasingkan ke Bangka dan Prapat.
Seluruh wilayah RI jatuh ke tangan Belanda kecuali Aceh. Mereka mengira dengan
suksenya penyerangan ini riwayat Republik Indonesia berakhir.Nyatanya Belanda
hanya menguasai daerah perkotaan dan jalur-jalur penting. Bngasa Indonesia
tetap hidup dan mendirikan di Halahan, sebelah Barat Laut Payakumbuh,
Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan Mr. Syarifuddin
Prawiranegara menjadi ketua dan Mr. T. Moh. Hassan sebagai wakilnya.
Belanda memang menduduki ibukota, tetapi
mereka melihat kenyataan bahwa Republik dengan PDRI-nya tetap menjalankan
funsinya. Rakyat Indonesia tetap merdeka, memiliki pemerintahan serta angakatan
bersenjata. Buktinya adalah terjajdinya rentetan peristiwa: selain pembentukan
PDRI, juga diadakan Konferensi New Delhi, Sidang Dewan Keamanan PBB ( Januari
1949), serangan Umum 1 Maret 1949, Didang Dewan Keamanan PBB Maret 1949, dan
Perundingan Roem-Royen. Perjanjian Roem-Royen ini menjadi dasar
diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar di Den Haag tanggal 23 Agustus sampai
2 November 1949. Hasil konferensi ini adalah penyerahan kedaulatan oleh Belanda
kepada Indonesia menjadikan berdirinya Negara Republik Indonesia Serikat (RIS)
pada tanggal 27 Desember 1949.
Dengan penyerahan ini masa perjuangan
fisik dengan semangat “Allahu Akbar” selesai, telah membawa Indonesia diakui
dunia internasional.[8]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sebelum
abad-20 perjuangan bangsa Indonesia masih bersifat keaderahan, perjuangan
berbentuk perlawanan fisik, melalui peperangan. Abad-20 menjadi awal abad
kebangkitan bagi Indonesia. Di abad ini Nasionalisme sudah terlihat. Perjuangan
bangsa Indonesia sudah bersifat nasional tidak lagi bersifat keaderahan yang
dipimpin oleh golongan terpelajar (cendekiawan).
Kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari
peran penting agama Islam.Karena tanpa adanya pergerakan yang dilakukan oleh
Islam, maka kemerdekaan NKRI tidak bisa dicapai. Tanpa Islam bisa jadi saat ini
kita masih dijajah oleh para penjajah. Maka bisa dikatakan tanpa Islam tidak
ada kemerdekaan.
B. Saran
Dalam
penyusunan makalah ini kami sadar banyak terdapat kesalahan dalam penyusunan
makalah. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca khusunya dosen Pembina
mata kuliah Sejarah Islah Asia Tenggara sangat kami harapkan demi kesempurnaan
pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Sartono Kartodirdjo,
Pengantar sejarah Indonesia baru, sejarah pergerakan nasional, jilid 2. PT
Gramedia. Jakarta 1990, Hal 102
Sartono Kartodirdjo,
Pengantar sejarah Indonesia baru, jilid 2. PT.Gramedia. Jakarta 1990, Sejarah Hal
110
Sartono Kartodirdjo,
Pengantar sejarah Indonesia baru, PT. Gramedia. Jakarta 1990, Hal 202
Huda Nor, Sosial
Intelektual Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Pers, 2015
Yatim, Badri.Sejarah
Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, PT RajaGrafindo Persada. Jakarta 2010
Sunanto, Musyrifah.
Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT RajaGrafindo Persada. Jakarta 2007
[1] Prof.
Dr. Musyrifah Susanto, sejarah peradaban
islam, PT RajaGrafindo Persada,
Jakarta 2007. Halaman 46-48
[2] Badri
Yatim, SEJARAH PERADABAN ISLAM Dirasah Islamiyah II, PT RajaGrafindo Persada,
Jakarta 2010. Halaman 265-267
[3] Sartono
Kartodirdjo, pengantar sejarah Indonesia baru:1500-1900 jilid 1, PT Gramedia,
Jakarta 1998. Halaman 102
[4] Sartono
Kartodirdjo, pengantar sejarah Indonesia baru:sejarah pergerakan nasional,
jilid 2. PT. Gramedia. Jakarta 1990. Hal 110
[5]Sartono
Kartodirdjo, pengantar sejarah Indonesia baru;PT. Gramedia. Jakarta 1990. Hal
202
[6] Huda
Nor. Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers,
2015
[7] Prof.
Dr. Musyrifah Susanto, opcit,. Halaman.
53
[8] Prof.
Dr. Musyrifah Susanto, opcit,. Halaman,
55-60
No comments:
Post a Comment